Suatu ketika saya teman teman saya membaca berita di situs yang cenderung islami, saya bertanya, "Kenapa kamu membaca situs itu?" dia menjawab "Saya ingin mendapat informasi yang berimbang, saya tidak membaca situs ini saja tapi juga membaca situs umum (mainstream) yang lain, karena saya mendapat banyak hal yang bertentangan dalam informasinya". Saya "manggut-manggut" dan berkata "ya bagus!".
Cara yang dia pakai dengan mengambil berbagai referensi adalah cara yang bijak. Cara itu efektif dengan asumsi kedua situs yang terlihat bertentangan keduanya menginformasikan berita yang benar dan dengan cara yang benar (jujur, tidak ada framing dan lain-lain, walaupun ini sulit ditemui) sehingga dengan membaca banyak referensi harapan pembaca dapat meyimpulkan dan merangkai informasi-informasi yang tercecer. Sekali lagi, dengan asumsi keduanya benar.
Ini sangat menarik jika dipandang dengan sudut pandang islam. Bila kita ingin meneladani ulama hadits yang telah mengamalkan ilmu-ilmu tentang periwayatan dan matan hadits secara sempurna dan membuahkan banyak karya monumental semisal shahih bukhari muslim, kitab-kitab sunan dan lain-lain, ilmu ini dapat kita ketemui dalam kitab-kitab mushtholah hadits (ilmu alat). Satu hal yang menarik ialah, dalam meriwayatkan kabar, ulama punya standar yang tinggi terhadap diterimanya kabar dari pribadi seseorang, misal orangnya tsiqoh (terpercaya), 'adil (ilmu dan amal bersesuaian), cerdas tidak mudah lupa, dan masih banyak lagi.
Sekarang mari kita lihat apa yang terjadi di saat ini, antara media sekuler dan media Islami (dengan asumsi pembaca mampu membedakan keduanya). Media sekuler membawa berita orang yang cenderung sekuler tentu dengan tidak mengesampingkan keilmuan dan kompetensi sebagai pembawa berita, dibandingkan dengan media Islami yang cenderung Islami tentu dengan tidak mengesampingkan keilmuan dan kompetensi sebagai pembawa berita. Silakan Anda cermati dan perhatikan apa yang akan terjadi setelah Anda mengetahui metode para ulama dalam menyeleksi kabar/berita, sungguh sesuatu yang sangat gharib (aneh) bila kita lebih menerima dan mengutamakan berita dari seseorang yang punya kecenderungan memisahkan agama dengan kehidupan bernegara dan tidak menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dibandingkan dengan berita yang dibawa oleh seorang muslim yang taat.
Akhirnya...
Zaman Mulkan Jabariyan sudah di penghujung
Zaman Islam kembali bersinar sudah dekat...
Kalo media mampu membuat Anda bingung
Bagaimana dengan Dajjal?
No comments:
Post a Comment