Wednesday, December 28, 2016

Fitnah Yang Sama


Kafir Quraiys memfitnah nabi dengan mengatakan bahwa nabi adalah penyihir. Mereka mengatakan "Hati-hati dengan Muhammad dia seorang penyihir yang kata-katanya mampu memisahkan seseorang dari kerabatnya, anak dari bapaknya, istri dari suaminya (karena masuk Islam dan Islam banyak bertentangan dengan paham jahiliyah mereka) dan seterusnya." Seperti yang Anda lihat di zaman sekarang, fitnah yang sama dilakukan oleh orang-orang yang tidak senang dengan kebangkitan Islam dengan mengatakan Islam radikal, Islam teroris dan seterusnya. Mereka berusaha memecah belah kaum muslim hingga Islam yang sesuai keinginan musuh Islam sajalah yang mereka ridhoi. Renungkan dan perhatikanlah hal ini baik-baik.

Adzan & Bandara

Pada situasi tertentu satu urusan Agama bisa lebih mudah dijelaskan dengan analogi Bandara...

Adalah teman saya, yang kebetulan non muslim, bertanya kepada saya, "Kenapa kalau adzan harus dibunyikan keras-keras dengan speaker pula?". 

Saya yang bukan ahli agama kemudian berpikir sejenak mencari jawaban yang mudah dicernanya, saya mencoba menjawab seperti ini, "Bro, adzan itu adalah panggilan sholat, pasti dong namanya panggilan tidak mungkin dengan cara yang sama seperti berbicara atau berbisik-bisik".
Teman saya membalas, "Tapi kan orang-orang di sekitar tidak semuanya muslim?". Saya jawab lagi "Benar Bro, kita sekarang sedang ada di bandara, dengar kan announcement bandara selalu memberikan panggilan boarding?
Apakah kamu juga mempertanyakan ke mereka mengapa melakukan panggilan boarding pesawat YANG LAIN keras-keras padahal bukan panggilan pesawatmu?".
Dia tersenyum namun membalas lagi, "Tapi kan hari gini semua orang sudah tau dengan teknologi jam berapa waktu sholat apa, apa masih harus adzan keras-keras?".
Saya pun kemudian menjawab, "Ya setiap penumpang juga kan sudah tahu jadwal penerbangannya sejak pesan dan memegang tiket, kemudian check-in, sudah tercetak jadwal keberangkatannya di boarding pass, sudah masuk ruang tunggu, tapi tetap pihak bandara melakukan panggilan boarding bukan?
Dan ada satu hal lagi mengapa adzan harus dikumandangkan?, itu bukan hanya sebagai penanda sudah masuk waktu sholat tapi benar-benar panggilan sholat, karena kami semua yang laki-laki harus menyegerakan menuju masjid atau masuk masjid untuk segera mengerjakan sholat berjamaah (menurut madzhab hanbali dan dhohiri) .
Sama halnya semua penumpang harus menyegerakan masuk pesawat setelah panggilan boarding, walaupun masih ada waktu naik pesawat sampai pesawat tutup pintu". Kali ini senyumnya bertambah lebar, lalu dia setengah memelukku sambil menepuk-nepuk bahuku dan berkata "SUPER, I get it Bro !!! ..." 👍👍👍👍👍
Saya disini adalah teman saya

SEBAR TERUS JANGAN TERPUTUS... !!!

Berita atau Kabar

Suatu ketika saya teman teman saya membaca berita di situs yang cenderung islami, saya bertanya, "Kenapa kamu membaca situs itu?" dia menjawab "Saya ingin mendapat informasi yang berimbang, saya tidak membaca situs ini saja tapi juga membaca situs umum (mainstream) yang lain, karena saya mendapat banyak hal yang bertentangan dalam informasinya". Saya "manggut-manggut" dan berkata "ya bagus!". 

Cara yang dia pakai dengan mengambil berbagai referensi adalah cara yang bijak. Cara itu efektif dengan asumsi kedua situs yang terlihat bertentangan keduanya menginformasikan berita yang benar dan dengan cara yang benar (jujur, tidak ada framing dan lain-lain, walaupun ini sulit ditemui) sehingga dengan membaca banyak referensi harapan pembaca dapat meyimpulkan dan merangkai informasi-informasi yang tercecer. Sekali lagi, dengan asumsi keduanya benar.

Ini sangat menarik jika dipandang dengan sudut pandang islam. Bila kita ingin meneladani ulama hadits yang telah mengamalkan ilmu-ilmu tentang periwayatan dan matan hadits secara sempurna dan membuahkan banyak karya monumental semisal shahih bukhari muslim, kitab-kitab sunan dan lain-lain, ilmu ini dapat kita ketemui dalam kitab-kitab mushtholah hadits (ilmu alat). Satu hal yang menarik ialah, dalam meriwayatkan kabar, ulama punya standar yang tinggi terhadap diterimanya kabar dari pribadi seseorang, misal orangnya tsiqoh (terpercaya), 'adil (ilmu dan amal bersesuaian), cerdas tidak mudah lupa, dan masih banyak lagi.
Sekarang mari kita lihat apa yang terjadi di saat ini, antara media sekuler dan media Islami (dengan asumsi pembaca mampu membedakan keduanya). Media sekuler membawa berita orang yang cenderung sekuler tentu dengan tidak mengesampingkan keilmuan dan kompetensi sebagai pembawa berita, dibandingkan dengan media Islami yang cenderung Islami tentu dengan tidak mengesampingkan keilmuan dan kompetensi sebagai pembawa berita. Silakan Anda cermati dan perhatikan apa yang akan terjadi setelah Anda mengetahui metode para ulama dalam menyeleksi kabar/berita, sungguh sesuatu yang sangat gharib (aneh) bila kita lebih menerima dan mengutamakan berita dari seseorang yang punya kecenderungan memisahkan agama dengan kehidupan bernegara dan tidak menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dibandingkan dengan berita yang dibawa oleh seorang muslim yang taat.
Akhirnya...
Zaman Mulkan Jabariyan sudah di penghujung
Zaman Islam kembali bersinar sudah dekat...
Kalo media mampu membuat Anda bingung
Bagaimana dengan Dajjal?

Sistem yang baik yang diisi oleh orang-orang baik

Kisah mengharukan yang menggugah keimanan dan ketakwaan, satu dari sekian banyak kisah yang membuktikan Islam telah melahirkan orang-orang terbaik yang pernah hidup di bumi.
Berikut sepenggal kisah para sahabat,
Suatu hari, Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu.
Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.
Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata :
"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!"
"Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini!".
Umar segera bangkit dan berkata :
"Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?"
Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata :
"Benar, wahai Amirul Mukminin."
"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar.
Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya :
"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, kuikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan untaku. Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera kucabut pedangku dan kubunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."
"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.
"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.
Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.
"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat", ujarnya.
"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu", lanjut Umar.
"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala,
"Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".
Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.
Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata :
"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah", ujarnya dengan tegas.
"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash".
"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.
"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?", tanya Umar.
"Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin".
"Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?", pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.
"Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.
"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.
Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang :
"Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin".
Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.
"Salman?" hardik Umar marah.
"Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".
"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.
Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.
Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.
Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama.
Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.
Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.
Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.
”Itu dia!” teriak Umar.
“Dia datang menepati janjinya!”.
Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.
”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,
“Tak kukira... urusan kaumku... menyita... banyak... waktu...”.
”Kupacu... tungganganku... tanpa henti, hingga... ia sekarat di gurun... Terpaksa... kutinggalkan... lalu aku berlari dari sana..”
”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,
“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.
”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan... di kalangan Muslimin... tak ada lagi ksatria... menepati janji...” jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.
Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya :
“Lalu kau, Salman, mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"
Kemudian Salman menjawab :
" Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.
Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.
”Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak...
“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.
Semua orang tersentak kaget.
“Kalian...” ujar Umar.
“Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.
Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana :
”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.
”Allahu Akbar!” teriak hadirin.
Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.

MasyaAllah...

Thursday, December 15, 2016

Pemuda Terbaik Dunia

Semangat pagi dan Terus Bergerak

Kalau saja Mahmed II (masyhur dengan nama Muhammad Al-Fatih) hidup kembali dan melihat kondisi pemuda saat ini, mungkin ia sudah geleng-geleng kepala tak habis pikir. Ah, betapa kualitas kita dan dirinya terbentang amat jauh!
Saat kebanyakan pemuda berumur 21 tahun sudah angkat dagu, bangga bisa taklukkan hati wanita, Muhammad Al-Fatih sudah mampu taklukkan Konstantinopel!
Saat para pemuda bersenang-senang habiskan umur 8 tahunnya dengan menghafal lagu-lagu orang dewasa, Muhammad Al-Fatih sudah hafalkan seluruh ayat Al-Quran dalam kepalanya.
Saat para pemuda masih bingung dengan mimpinya, tidak tahu akan jadi apa, "let it flow" katanya, Muhammad Al-Fatih sudah bertekad dengan lantang sejak kecil, "Ayah, aku ingin menaklukkan konstantinopel!"
Tekadnya tidak berakhir dengan teriakan lantang saja. Muhammad Al-Fatih memiliki visualisasi mimpi yang teramat jelas. Sejak kecil ia bersama ayah dan gurunya sudah memandang Benteng Byzantium dari atas bukit.
“Nak, benteng itu yang akan kau taklukkan nanti," seru Sang Ayah.
Muhammad Al-fatih bahkan memiliki ruangan khusus berisi miniatur Konstantinopel, lengkap dengan peta dan strategi perang. Betapa ia tidak main-main dengan mimpinya.
Saat para pemuda begitu mudah mengeluh, merasa punya segudang masalah dan tekanan hidup, lalu menganggap hidupnya akan berakhir sia sia, Muhammad Al-Fatih sudah dibebankan amanah yang begitu besar bahkan sejak ia lahir ke dunia.
Ia menjadi tumpuan harapan tiga generasi bani utsmaniyyah akan takluknya konstantinopel, janji Allah yang diucapkan Rasulullah ratusan tahun silam. Ia menjadi harapan dari 6 abad perjuangan para pendahulu. Bayangkan! harapan 600 tahun perjuangan para pendahulu dibebankan pada pundaknya! Ah, tapi sedikitpun ia tak gentar, tak mundur barang sejengkal!
Saat para pemuda habiskan waktunya untuk bersenang-senang, menonton film, nongkrong berjam-jam, Muhammad Al-Fatih memilih tingkatkan kemampuan fisik dan mengisi otaknya. Ia kuasai teknik bela diri, memanah, berkuda, berenang, strategi berperang, Ilmu fiqh, hadis, astronomi, dan matematika. Ia juga menguasai banyak bahasa; Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani.
Saat para pemuda dengan mudah hancur mentalnya ketika direndahkan atau dihina orang lain, Muhammad Al-Fatih punya hati seluas samudera, mental sekuat baja. Tak terhitung berapa banyak orang yang merendahkannya saat ia diangkat menjadi Sultan (wali/gubernur) pada umur 19 tahun. "Bocah ingusan!" cela orang. Musuh dan lingkaran orang kesultanan meremehkan kemampuannya. Kerajaan musuh menyerang saat tahu Muhammad Al-Fatih diangkat menjadi sultan. Tapi ia lebih memilih memberikan bukti nyata.
Saat para pemuda habiskan air matanya untuk kekasih hati yang tidak jelas, Muhammad Al-Fatih memilih habiskan air matanya untuk memohon ampunan dan panjatkan harapan. Sejak baligh, tak pernah satu malam pun ia lewatkan shalat Tahajud. Ialah Pedang Malam, yang selalu diasah dengan tulus ikhlas.
Saat para pemuda lupa dan meninggalkan Tuhan, "nanti saja kalau sudah tua" fikirnya, Muhammad Al-Fatih tak sekalipun pernah meninggalkan Allah dalam tiap urusannya. Ia miliki 250 ribu pasukan yang tak sekalipun meninggalkan shalat wajib. Ia laksanakan shalat Jumat sebelum menyerang Konstantinopel. Shalat yang shaffnya 4 km membentang dari Pantai Marmara hingga Selat Golden Horn di utara! Gema takbir bersahutan, menggetarkan, menjadi semangat saat menggempur lawan!
Saat para pemuda kehabisan cara dan ide-ide cemerlang untuk meraih mimpinya, Muhammad Al-Fatih tak kehabisan cara, bahkan yang menurut orang lain gila.
Yang ia hadapi ialah Benteng Byzantium! Dibatasi laut dengan pagar rantai besi, terbuat dengan teknologi terhebat pada zamannya, tak mampu ditembus selama 11 abad.
Kokohnya Benteng Byzantium tak membuat Ia kehilangan akal. Tak bisa menyeberangkan 70 kapal lewat laut, ia lumurkan minyak pada ratusan gelondongan kayu, lalu jalankan seluruh armada kapal melintasi bukit hanya dalam satu malam!
Hoila!
Pagi hari menjelang, musuh kaget bukan kepalang. Benteng Byzantium yang selama 11 abad tak terhancurkan, hari itu telah mampu ditembus!
Merekalah yang Rasulullah sebut dengan sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik tentara.
“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” 
[H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335].
Lalu saat ini, kita sadar akan bentang yang amat jauh antara kualitas pemuda saat ini dan di zaman Muhammad Al-Fatih. Ada jurang pemisah yang terpampang dengan nyata. Kita juga sadar akan ketinggalan yang amat jauh. Oleh karena itu, kita harus mengejar itu semua dengan kerja keras dan kesungguhan.
"Kaki anak Adam tidaklah bergeser pada hari Kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal; tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa dia pergunakan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan kemana dia infakkan dan tentang apa yang telah dia lakukan dengan ilmunya." (HR. Tirmidzi)
Kelak masa muda akan dimintai pertanggungjawabannya. Mereka yang memberi manfaat yang akan kekal, namanya abadi tercatat di bumi dan langit.

“Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (QS. Ar-Raad:17).

Politik Amerika Serikat


Politik Amerika Serikat, partai Demokrat, dia didominasi oleh tipudaya dan penampilan dengan pakaian demokrasi palsu dan mengikuti cara-cara orang Inggris. Jadi dia memberi racun yang dibalut dengan gula. Dia membunuh Anda sementara dia tersenyum. Sementara pada sisi sebaliknya partai Republik memberikan racun murni dan dia membunuh Anda, sementara dia menggigit geraham tanda kemarahan. Karena itu, para presiden dari Demokrat (semisal Kenedy, Carter, Clinton dan Obama) lebih mampu mengelabuhi dan meraih rasa cinta orang-orang bodoh. Sementara para presiden dari partai Republik (semisal Reagen, Nikson, Bush Sr. dan Bush Jr.) tidak mengelabuhi seorang pun sebab permusuhan mereka pada lawannya terang dan jelas.

Kepolisian di Zaman Khilafah ‘Abbasiyyah

Oleh: KH Hafidz Abdurrahman
Di zaman Khilafah ‘Abbasiyyah, negara telah membangun beberapa penjara dengan dana dari Baitul Mal. Karena penjara-penjara ini terbukti telah berhasil menghentikan kebejatan dan perilaku kriminal penjahat dari masyarakat. Khilafah ‘Abbasiyah tidak kikir dalam membelanjakan dananya untuk memenuhi kebutuhan penghuni hotel prodeo itu, serta mengurusi ihwal mereka.
Qadhi Yusuf, penulis kitab al-Kharaj, yang hidup dan menjadi Qadhi di zaman Khalifah Harun ar-Rasyid mengusulkan kepada Khalifah untuk menyediakan katun saat musim panas, dan wol saat musim dingin untuk penghuni penjara. Begitu juga kesehatan mereka mendapatkan perhatian dari negara.
Khilafah ‘Abbasiyyah mempunyai keinginan kuat mengangkat polisi di dua musim, panas dan dingin, dengan dasar keilmuan, ketakwaan, penguasaan fikih, dan mereka yang tidak peduli terhadap cacian pencaci dalam menegakkan hukum Allah. Dalam kitab Tabshiratu al-Hukkam, Ibn Farkhun, menuturkan kisah Kepala Kepolisian, Ibrahim bin Husain bin Khalid, yang menghukum orang yang bersumpah palsu di pintu barat tengah. Dia mencambuknya sebanyak 40 kali cambukan. Jenggotnya dicukur, wajahnya dicat hitam, dikelilingkan sepuluh kali di antara dua waktu shalat, dan diteriaki, “Inilah hukuman bagi orang yang bersumpah palsu.” Ia menambahkan, “Kepala Kepolisian [Ibrahim bin Husain] ini adalah orang yang mulia, baik dan ahli fikih, menguasai tafsir.” Jabatannya ini kemudian diserahkan kepada al-Amin Muhammad. Dia murid Mutharrif bin ‘Abdillah, pengikut mazhab Malik, yang meriwayatkan kitab al-Muwattha’ dari beliau.
Di zaman Khalifah al-Ma’mun, ‘Abdullah bin Husain diangkat menjadi Kepala Kepolisian untuk Kepolisian Ibukota Khilafah, Baghdad. Dia diangkat karena kemampuan dan kelayakannya. Bukan karena yang lain.
Meski demikian, institusi khilafah tidak segan-segan memecat kepala kepolisian yang rusak. Mereka yang melampaui batas, ketika melakukan eksekusi. Mereka yang tidak menggunakan bukti. Khalifah al-Muqtadir Billah telah mencopot Kepala Kepolisian Baghdad Muhammad bin Yaqut, dan tidak boleh menduduki jabatan di pemerintahan, karena perangai yang buruk dan kezalimannya.
Tugas kepolisian di zaman itu bermacam-macam. Anggota kepolisian dari seluruh wilayah dikumpulkan dengan tugas menjaga keamanan, menangkap pencuri, perusak, serta menjaga tatakrama [kesopanan] umum. Wali Mesir, Muzahim bin Khaqan [w. 253 H], menugaskan Kepala Kepolisiannya, Azjur at-Turki, untuk melarang wanita melakukan tabarruj, ziarah kubur, menghukum waria, atau orang-orang yang meraung menangisi jenazah. Kepala kepolisian ini juga memberi perhatian terhadap berbagai tempat hiburan dan minum khamer.
Bagi kepala kepolisian yang lalai dalam menjalankan tugasnya, akan dipaksa oleh para khalifah untuk segera memperbaiki kesalahannya secepatnya, agar bisa segera dikendalikan, dan mencegah terjadinya bahaya tersebarnya kesalahan tersebut di tengah masyarakat. Ibn al-Qayyim, dalam kitabnya, at-Thuruq al-Hukmiyyah, menuturkan kisah tentang bagaimana kecerdasan dan kepedulian kepala kepolisian di zaman ‘Abbasiyyah, terutama di saat-saat krisis.
Ia menuturkan, pada zaman Khalifah al-Muktafi, ada beberapa pencuri melakukan pencurian terhadap harta dalam jumlah besar. Maka, Khalifah memerintakan kepada Kepala Kepolisian untuk mengusir para pencuri dan merampas hartanya. Kepala Kepolisian ini pun seorang diri melakukan pengintaian dan keliling siang malam, sampai akhirnya ditemukan. Setelah ketemu, kepala kepolisian ini memanggil sepuluh polisi untuk melakukan pengepungan, dan berhasil menyelesaikan masalah ini dengan cepat. Kisah ini menggambarkan, bagaimana kesigapan polisi di zaman itu dalam melaksanakan instruksi khalifah.[]

Sumber: Tabloid Mediaumat edisi 186

Perkataan Perdana Menteri Pertama Israel

"Jika aku menjadi pemimpin arab, aku tidak akan pernah menandatangani perjanjian apapun dengan Israel. Ini hal yang normal; kita (Isra...