Monday, May 30, 2016

Kenapa Seorang Mayit Memilih "BERSEDEKAH" Jika Bisa Kembali Hidup ke Dunia?

Sebagaimana firman Allah:

رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ


"Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda [kematian]ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah..." {QS. Al Munafiqun: 10}


Kenapa dia tdk mengatakan,


"Maka aku dapat melaksanakan umroh" atau
"Maka aku dapat melakukan sholat atau puasa" dan lain lainnya?


Berkata para ulama,


Tidaklah seorang mayit menyebutkan "sedekah" kecuali karena dia melihat besarnya pahala dan imbas baiknya setelah dia meninggal.


Maka, perbanyaklah bersedekah, karena seorang mukmin akan berada dibawah naungan sedekahnnya.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,

“Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya, hingga diputuskan perkara-perkara di antara manusia.” (HR. Ahmad)

Dan, bersedekah-lah atas nama orang-orang yg sudah meninggal diantara kalian, karena sesungguhnya mereka sangat berharap kembali ke dunia untuk bisa bersedekah dan beramal shalih, maka wujudkanlah harapan mereka.


Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya ada seseorang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia mengatakan,

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ibuku tiba-tiba saja meninggal dunia dan tidak sempat menyampaikan wasiat padaku. Seandainya dia ingin menyampaikan wasiat, pasti dia akan mewasiatkan agar bersedekah untuknya. Apakah Ibuku akan mendapat pahala jika aku bersedekah untuknya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya”. (HR. Bukhari & Muslim)

Dan, biasakan, ajarkan anak-anak kalian untuk bersedekah.

Dan sedekah yg "paling utama" saat ini adalah; menyebarkan tulisan ini dengan niat sedekah.

Karena siapa saja yg mempraktekkan isi tulisan ini, dan mengajarkannya untuk generasi berikutnya, maka pahala-nya akan kembali kepada anda in-syaa Allah.


Oleh:


Syeikh Maher al'Mueaqly hafidzahullah
[Imam Masjidil Haram]

Wednesday, May 25, 2016

Bisa bahasa arab bisa karena biasa

Pernah mendengar nasehat orang, "Bila ingin bisa berenang, maka anda harus makan udang hidup-hidup". Kata-kata ini bukan isapan jempol belaka, bukan bercanda apalagi tahayul karena "anda makan udangnya harus di kolam air yang luas dan dalam".

Sama saja seperti orang yang mengatakan "Bila anda ingin lancar berbahasa arab, makanlah kurma 1 hari satu biji, selama tiga bulan" tetapi makan kurmanya di arab dan beli di pasar terlebih dahulu.

(Disarikan dari buku How to master your habbit)

Nasihat Kepada Orang Yang Dzalim

Dari Anas radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Tolonglah saudaramu yang berbuat zhalim (aniaya) dan yang dizhalimi". Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, jelas kami faham menolong orang yang dizhalimi tapi bagaimana kami harus menolong orang yang berbuat zhalim?" Beliau bersabda: "Pegang tangannya (agar tidak berbuat zhalim) ".

Monday, May 23, 2016

Antara Puasa dan Qishaash


"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian puasa..." (TQS Al-Baqarah 183)

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian qishaash dalam perkara pembunuhan..." (TQS Al-Baqarah 178)

Jika kewajiban berpuasa Ramadhan disambut dengan senang hati... Kenapa kewajiban menerapkan hukum qishaash diingkari? 

The Compilation of "#UdahPutusinAja"

Apa yang hina jika usia muda udah menikah? Yang hina itu yang pacarannya bertahun-tahun, usia udah ga muda, tapi ga nikah nikah, dan tetap melakukan maksiat berpacaran.. #UdahPutusinAja
Pacaran dulu baru nikah, itu zaman dulu, zaman sekarang #UdahPutusinAja dulu, pantaskan diri dengan ilmu dan amal baru nikah.
Pacaran nikmat sesaat pegang dan raba, sepuas dia hilang entah kemana, sementara kamu derita sakit sengsara. #UdahPutusinAja
Catet nih, SEMUA yang pacaran itu belum siap nikah. #UdahPutusinAja
Sendiri karena Allah, pantaskan diri agar dihampiri yang salih, jauh lebih baik dari yang pacaran, benarkan maksiat dengan ribuan dalih. #UdahPutusinAja
Nikahi WANITA itu ibarat mau beli RUMAH, serius itu ya temui PEMILIK bukan sibuk nongkrongin RUMAH. #UdahPutusinAja
Pacaran itu tanda belum siap nikah, kamu dijadiin kelinci lab agar dia siap  atau nunggu sampe dia siap (sampe kapan?) #UdahPutusinAja
Digombalin udah, di-PHP udah, dikhianatin udah, maksiat udah, dimarahin udah, dimainin udah, terus kapan dinikahin? #UdahPutusinAja
Ketemu ortumu banyak alasan, ketemu ortu dia dia bilang nanti, diajak nikah bilang nanti aja, giliran maksiat cepet. #UdahPutusinAja
Diajak nikah katanya masih banyak tanggungan, ditanya kapan jawabannya jalanin aja, giliran buat dosa ada aja pembenaran. #UdahPutusinAja
Shalat aja gerah, baca Al-Qur'an susah, duit masih nadah, ngomong serius dianya masih sekolah. #UdahPutusinAja
Bukan cinta kalo ngajak maksiat, bukan sayang kalo nggak serius, nikah masih jauh, dosanya udah jauuuuh. #UdahPutusinAja
Jangan sampe nyesel, udah dikasi semuanya, besok kamu bagi dia cuma.. , temennya: "eh dia itu mantan lo ya?", jawabnya: "iya, bekas gue" #UdahPutusinAja
Sudah disampaikan Rasul, khalwat (berdua-duaan) bukan mahram itu dosa, apalagi pacaran | eh malah dijajal, ampun.. #UdahPutusinAja
Nikah itu seriusan, pacaran itu main-mainan, kamu mau diseriusin apa dimainin? #UdahPutusinAja
Pacaran dikit-dikit galau, dikit-dikit galau | galau kok dikit-dikit #UdahPutusinAja
Pacaran itu abisin duit, nikah kemungkinan cuma 4% , pahala jelas nggak dapet, maksiat numpuk, hayuu #UdahPutusinAja
Pacaran enak sebentar, sakit seumur-umur, dan enaknya cowok doang, cewek mah tekor! #UdahPutusinAja
"Pacaran kan perkenalan?" betul, kan sudah sy bilang, kenalan doang, main2, nggak serius! #UdahPutusinAja
Mau bukti pacaran itu nggak serius? hayu tanya "kapan kita nikah?" , anda akan menemukan lelaki itu ngarang bebas, mati gaya #UdahPutusinAja
Pas jadi pacar aja nyusahin, ngutanglah, minta macem2lah, ajak maksiat lah, pas nikah, dia nyusahin lo dgn begitu sama cewe lain =_= #UdahPutusinAja
Pacaran memang enak, nikmat | sampai sesuatu terjadi (semua begitu cepat), dan satu pergi cuci tangan dan satu menyesal #UdahPutusinAja

Memang kita semua punya kesalahan, makanya yuk bareng-bareng jadi lebih baik, jadi lebih taat, jadi lebih deket sama Allah 


smile emoticon

Percakapan Beda Frekuensi

A : "Mengapa kamu tidak pacaran?"
B : "Karena pacaran hukumnya haram?"
A : "Ada sebab lain?"
B : "Tidak ada."
A : "Apakah menurutmu pacaran itu ada manfaatnya?"
B : "Ada manfaatnya."
A : "Apa manfaatnya?"
B : "Pelakunya gembira. Bisa menambah semangat belajar. Bisa hemat bensin karena berangkat kuliah boncengan. Bisa jadi ada teman curhat. Hidup menjadi tidak sepi. Dan masih banyak lagi.
A : “Apa kamu tidak ingin punya tambatan hati?”
B : “Pengen.”
A : “Pacaran jelas banyak manfaatnya. Kamu juga pengen. Lantas, mengapa kamu tidak pacaran?”
B : “Kan sudah saya bilang. Pacaran hukumnya haram.”

Sunday, May 22, 2016

Rezim Iran: Model Penyesatan dan Kerusakan



Rezim yang berkuasa di Iran sejak revolusi 1979 —yang mereka sebut revolusi ideologi Islam— mendapat legitimasi kekuasaannya dengan meyakinkan para pengikutnya untuk menegakkan hukum Islam, yakni “pemerintahan Islam” yang didasarkan pada tatanan (petunjuk, kaidah, ketentuan) dan standar Islam, serta mengadopsi hukum-hukum Islam sebagai konstitusinya.
Namun, gelembung-gelembung yang mereka lepaskan di udara itu hanya untuk mendapatkan pengikut, dan membius perasaan kaum Muslim di dunia, yang segera memudar dengan cepat ketika konstitusi yang dibuatnya tidak berbeda dari konstitusi sekuler manapun, yang mengabadikan sistem republik, dan asas pemisahan kekuasaan, serta mengadopsi sistem kapitalisme sebagai dasarnya, sekalipun berusaha menutupinya dengan pembalut Islam. Sehingga tercipta gagasan kabur yang disebut dengan wilāyah al-faqīh (kekuasaan ahli fiqih), kemudian menjadikannya sebagai dasar bagi pemerintahan yang disebutnya dengan pemerintahan Islam.
Apakah sistem yang dibentuk oleh revolusi Iran itu menyebabkan kebangkitan rakyat Iran dan kemajuannya? Apakah Iran terbebas dari ketergantungan politik, ekonomi dan budaya kolonialis imperialis seperti yang diklaimnya? Ataukah Iran diselimuti kerusakan masyarakat, pendistorsi secara ekonomi, sosial, budaya dan politik? Lebih dari itu, apakah Iran benar-benar menerapkan sistem Islam ini, ataukah itu kebohongan dan kepalsuan semata?
Pertama: Kondisi Perekonomian
Iran adalah negara dengan perekonomian terbesar kedua di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara dalam hal Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product (GDP)—yang mencapai 282 miliar dolar pada tahun 2002—dan produsen minyak terbesar keempat di dunia setelah Arab Saudi, Rusia dan Amerika Serikat—yaitu empat juta barel per hari—serta kelima terbesar pengekspor minyak di dunia, dan kedua yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia setelah Arab Saudi, dengan cadangan minyak Iran sekitar 10 persen dari total cadangan dunia, dan memiliki cadangan gas alam terbesar kedua di dunia. Termasuk anggaran 2014—menurut Iran TV—mencapai 290 miliar dolar, sesuai laporan Bank Dunia, Maret 2014.
Kepala Komite Energi, di Dewan Syura Islam Iran, Mas’ud Mir-Kazemi menekankan bahwa “Republik Islam Iran memiliki kekayaan yang luar biasa dari minyak dan gas, dan menempati peringkat pertama di dunia. Juga terdapat lebih dari tiga ribu tambang aktif yang memproduksi berbagai mineral dan logam. Bahkan banyak dari hasil pertanian Iran merupakan penyumbang pertama hasil pertanian di dunia.” (ChannelAlalam, 24/06/2013).
Namun, kenyataan di Iran, bahwa rakyat Iran menderita krisis besar terkait bahan bakar mobil, dan berada pada tingkat yang mengerikan dalam hal pengangguran, kemiskinan, korupsi dan inflasi. Iran mengimpor 40 sampai 50 persen dari kebutuhan bensin mobil (situs al-Quds, 28/03/2014, dan al-Iqtishadiyah, 01/07/2007). Bahkan pemerintah berencana untuk meningkatkan impor bensin. Harga minyak naik 75 persen pada Maret 2014, dua hari setelah 95 persen dari rakyat Iran mendaftarkan nama mereka dalam program bantuan tunai, sehingga hal ini membuat pemerintah mulai berkampanye yang mendesak keluarga Iran untuk meninggalkan program tersebut (Alarabiah Net, 27/04/2014).
Pusat Statistik Iran mengumumkan bahwa tingkat pengangguran di kalangan anak muda saat ini mencapai 26%. Menteri Koperasi dan Pekerjaan, Ali Rabi’i mengatakan bahwa penciptaan lapangan kerja untuk saat ini tidak mungkin, sebab pertumbuhan ekonomi di negara tersebut masih di bawah nol (Alarabiah Net, 25/10/2013), berdasarkan laporan Bank Sentral Iran. Sementara tingkat inflasi tahunan saat ini bertengger di 34,7% (Alarabiah Net, 27/04/2014). Dan dalam satu bulan harga makanan naik berkisar 34% dan 48% (France, 24/04/2012).
Seorang anggota parlemen Iran, Musa Tsarwati mengatakan bahwa 20% dari rakyat Iran hidup di bawah garis kemiskinan, dan sebagian besar dari mereka tidak menerima layanan yang diperlukan dari pihak yang berwenang. Tsarwati mengatakan: “Statistik menunjukkan bahwa 15 juta warga yang mewakili 20% dari total penduduk negara hidup di bawah garis kemiskinan.” Ia menjelaskan bahwa “7 juta dari mereka ini tidak mendapatkan dukungan apapun dari instansi pemerintah, dan mereka tidak mendapatkan layanan apapun untuk meningkatkan standar hidupnya (Alarabiah Net, 06/03/2014).
Selain tingginya jumlah perumahan kumuh di Iran. Dalam laporan Pusat Studi al-Jazerah (05/03/2012) disebutkan bahwa dari hasil beberapa studi dan penelitian diketahui ada lima juta orang—ada yang mengatakan dua puluh juta orang—hidup di daerah kumuh.
Adapun korupsi di negara ini sudah mencapai batas yang tidak bisa dikendalikannya. Seorang anggota parlemen Iran, Ghulam Ali Ja’far Zadah, anggota komisi investigasi di parlemen memperingatkan bahwa besarnya angka korupsi yang terungkap pada masa pemerintahan Ahmadinejad, bisa merugikan negara dan merusak kepercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga negara.
Ia mengatakan: “Korupsi sudah sangat besar hingga batas yang membuat kami sangat takut jika semua terungkap dapat menyebabkan perlawanan sosial terhadap sistem.” Sungguh, amat disayangkan bahwa pemerintah Ahmadinejad yang mengklaim pemerintahan bersih, justru menunjukkan kejahatan yang sangat besar.” (al-hayah, 13/10/2013).
Situs Erem News dalam sebuah laporannya (27/08/2014) mengatakan bahwa sebagai akibat dari situasi ekonomi yang memburuk di Iran, ribuan rakyat Iran bermigrasi—yang sebagian besar berijazah dan memiliki keahlian tinggi—demi menghindari kesulitan hidup dan kurangnya kesempatan kerja. Mantan Menteri Sains, Teknologi dan Riset Iran Reza Faraji Dana mengatakan bahwa besarnya angka yang meninggalkan Iran karena menghindari situasi yang keras, yaitu sekitar 150 ribu elite setiap tahun.
Akan tetapi kebiasaan pemerintah, bahwa mereka tidak pernah menemukan jalan keluar bagi kegagalan pengelolaan negara, kecuali mencabut hak-hak rakyat dan mempersulit hidupnya. Sehingga pemerintah tidak pernah menemukan jalan keluar bagi krisis ekonominya, kecuali apa yang disebut dengan reformasi radikal, di antaranya adalah mengubah total kebijakan subsidi listrik, bahan bakar, dan bahan makanan pokok (Alarabiah Net, 27/04/2014).
Mungkin beberapa kata yang diungkapkan oleh salah seorang rakyat biasa yang mengelola sebuah toko kecil ini mencerminkan ekspresi fasih tentang kondisi ekonomi dan kehidupan di Iran: “Harga-harga naik, dan penjualanku menurun sekali.” Ia menambahkan: “Kehidupan tidak semakin lebih baik.” (surat kabaran-Nahar (27/04/2014).
Kedua: Kondisi Sosial
Masyarakat Iran menderita akumulasi masalah sosial, yang paling penting dan paling tinggi penyebarannya adalah penggunaan narkoba di kalangan anak muda, serta penyebaran prostitusi sebagai akibat langsung dari memburuknya kondisi perekonomian dan kehidupan di negara ini.
Iran—menurut laporan internasional—menempati peringkat tertinggi pecandu narkoba di dunia, khususnya heroin dan opium; 2,5% dari populasi berusia di atas 15 tahun, adalah para pecandu beberapa jenis obat-obatan terlarang (al-Bayan, 07/08/2013). Pada tahun 2000, pemerintah secara resmi mengakui bahwa ia memiliki 1,2 juta pecandu narkoba (BBC Arabic, 15/12/2000). Bahkan beberapa departemen pemerintah percaya bahwa jumlah pecandu mencapai hingga empat juta orang (asy-Syarq al-Ausath, 24/09/2005).
Surat kabar asy-Syarq al-Ausath (24/09/2005) mengatakan dengan mengutip dari Darkhash Mukiri, Direktur Pusat Nasional Iran untuk Studi Ketergantungan bahwa ketika gempa menghancurkan kota Bam di akhir tahun 2003, maka di antara barang bantuan yang dikirim oleh pemerintah ke kota itu adalah dosis metadon (sejenis obat opioid sintetik, yang digunakan sebagai analgesik dan untuk merawat kecanduan dari pengguna golongan opioid, seperti heroin, morfin dan kodein), karena diyakini bahwa 20 persen dari penduduk di wilayah itu adalah para pecandu. Mengingat banyaknya rakyat Iran yang menjadi pecandu opium, hingga para analis pemerintah merekomendasikan bahwa negara harus belajar cara budidaya opium.
Sebagai akibat dari penyebaran kemiskinan, serta buruknya kondisi perekonomian dan kehidupan di negara ini, maka tidak sedikit perempuan yang melakukan praktek prostitusi untuk melarikan diri dari kenyataan menyakitkan yang mengelilingi mereka. Surat kabar al-Bayan (07/08/2013) mengutip dariRadio Free Europe bahwa berdasarkan angka resmi, ada 300 ribu wanita yang bekerja sebagai pelacur di Iran, dan menurut surat kabar ini, jumlah itu terus meningkat.
Rasul Nafisi, seorang sosiolog dan Dekan Fakultas Studi Persia di Strayer University of Washingtonmenyatakan, “Alasan peningkatan prostitusi sekarang adalah lemahnya perekonomian, tingginya angka perceraian, dan eksploitasi perempuan yang melarikan diri dari keluarga miskin.”
Situs Bahrain News (27/01/2014) mengutip dari majalah Lebanon al-Syira’, edisi (684) bahwa mantan Presiden Iran mengatakan ada seperempat juta anak pungut (semula terlantar) di Iran akibat dari pernikahan kontrak (mut’ah).
Jamela Kadivar, anggota parlemen Iran, dan anggota Fraksi Perempuan di Parlemen mengatakan: “Sumber utama kegelisahan kami terletak pada penyebaran tren ini secara dramatis. Dikatakan bahwa angka resmi yang dirilis oleh Organisasi Kesejahteraan Sosial menjelaskan bahwa ada lebih dari 1,7 juta perempuan dan gadis, yakni sekitar (6 %) dari jumlah perempuan di Iran, mereka melarikan diri dari rumahnya, dan menjadi tunawisma, sehingga banyak dari mereka yang akhirnya melakukan praktek prostitusi.”
Sementara reaksi rezim yang berkuasa terkait masalah ini, bahwa Presiden Rohani mendorong lembaga-lembaga pemerintah untuk “menahan diri dari terlalu banyak campur tangan dalam kehidupan rakyat yang tidak bisa mengintimidasi mereka dengan cambuk untuk masuk surga, namun biarkan mereka memilih jalan mereka sendiri ke surga.” (surat kabar al-Hayah, 13/10/2013).
Ketiga: Republik Sektarian, Bukan Islam
Pasal XIII dari Konstitusi Iran menyatakan bahwa “Agama resmi Iran adalah Islam, dan doktrinnya adalahJa’fari Itsna Asyari. Pasal ini akan tetap tidak berubah selamanya. Sedang doktrin-doktrin Islam lainnya … untuk doktrin-doktrin ini ada pelajaran resmi dalam masalah pendidikan, pengajaran keagamaan, dan hukum-hukum perdata.”
Siapapun yang mencermati Konstitusi Iran, yang menetapkan doktrin mayoritas, di samping menjadikan bahasa Persia sebagai bahasa resmi, maka ia akan meyakini bahwa konstitusi ini dibuat untuk sebuah negara sektarian, dan bukan negara Islam, sebagaimana yang diklaim oleh rezim penguasa. Negara Iran adalah negara nasionalisme, bukan negara bagi seluruh kaum Muslim.
Lebih dari itu, Iran didirikan sebagai negara sekuler yang diinginkan oleh sistem kapitalisme Barat. Sehingga Konstitusi dan undang-undang yang dirancang tidak ada hubungannya dengan Islam, atau dengan doktrin Ja’fari. Bahkan Iran tidak memperlakukan sama antara pengikut doktrin mayoritas dan pengikut doktrin-doktrin Islam yang lain, bahkah Iran cenderung memecah-belah mereka daripada menyatukannya.
Jadi, hanya sekedar janji bahwa doktrinnya dihormati dalam pengajaran, pendidikan agama, masalah perceraian dan pernikahan. Namun, jika kita perhatikan tampak perasaan benci dan ketidaksukaan yang disengaja, serta permusuhan terhadap doktrin lainnya, juga mengajari rakyat Iran permusuhan sektarian, dan menciptakan perselisihan sektarian. Semua ini adalah adonan yang siap untuk memaksakan dominasi mereka atas rakyat Iran, dan dengannya mereka berhasil melindungi mereka dari pemusnahan di tangan para pengikut doktrin lainnya, juga penggunaan api permusuhan ini untuk kepentingan rezim yang berkuasa, dan sebagai dalih kebijakan luar negerinya, yang akan dijelaskan nanti.
Misalnya, pengangkatan gubernur, para menteri, dan anggota presidium parlemen, semua didasarkan atas sektarian. Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Shabah Musawi, Kepala Biro Politik Partai an-Nahdhah al-Ahwazi dikatakan: “Tidak ada seorang pun menteri atau gubernur yang dari Sunni. Juga, tidak ada satu orang Sunnipun di dalam anggota presidium parlemen Iran. Dan selama 27 tahun, kami meminta izin untuk membangun masjid Sunni di ibukota Teheran, namun pemerintah selalu menolak untuk menyetujui permintaan ini.” (surak kabar Elaf, 21/10/2010).
Sejauh ini, Iran hanya menjadikan doktrinisme untuk mencapai tujuan dan kepentingan rezim yang berkuasa, tanpa ada kepedulian terhadap doktrin jika bertentangan dengan kepentingan nasionalnya. Iran tidak melakukan apa pun untuk menolong rakyat Azerbaijan—yang kebanyakan mengikuti doktrin Ja’fari—dari pembantaian yang dilakukan Rusia terhadap mereka, pada tahun 1989, juga tidak mendukung mereka saat Armenia mendeportasi lebih dari satu juta orang Azerbaijan, pada tahun 1994, sementara itu kita menemukan bahwa Iran membela dan mendukung orang-orang Syiah yang berada di daerah lain, seperti di negara-negara Teluk, Yaman, Mesir dan Pakistan, dengan tujuan untuk melemahkan negara-negara ini, dan membangkitkan kerusuhan di dalamnya.
Sehingga kami dapati dengan jelas, bahwa Iran menggunakan doktrin Ja’fari hanya untuk mewujudkan kepentingan nasional dan regionalnya, dan untuk melaksanakan rencana politik yang didiktekan oleh tuannya, serta untuk memobilisasi pengikut dan pendukung.
Keempat: Kebijakan Luar Negeri dan Kebohongan Permusuhan Iran-Amerika
Legitimasi rezim yang berkuasa di Iran ini dibangun di atas gelembung permusuhan dengan Amerika, dan menggambarkan AS sebagai “Setan Besar”, di samping pura-pura menjalankan peran sebagai pembela dan pendukung isu Palestina, kepemimpinan poros pencegahan dan perlawanan, serta slogan-slogan kilat yang cerah di langit namun tidak memberikan dampak apa-apa di bumi.
Juga, senantiasa melekat pada pemerintah di Iran, yaitu permusuhan terhadap AS, serta sanksi ekonomi akibat kegagalan kebijakan dalam negerinya. Kepala Komite Energi di Majelis Syura Islam Iran, Mas’ud Mir Kazemi mengatakan bahwa “Iran memiliki masa depan yang sangat cerah. Sementara yang menimbulkan kemarahan Amerika adalah suatu kenyataan bahwa akan ada negara yang ingin berdiri di atas kaki sendiri tanpa bergantung pada Timur atau Barat, serta meniup revolusi agama Islam, sehingga revolusi ini mampu untuk mencapai kemajuan meski harus menghadapi semua kendala.” (ChannelAlalam, 24/06/2013).
Namun, bukan rahasia lagi tentang fakta peran Iran dalam barisan Amerika, dan perannya sebagai ujung tombak untuk pelaksanaan proyek dan rencana AS di kawasan itu. Surat kabar asy-Syarq al-Ausath(06/10/2013) mengutip dari mantan Kepala Dewan Penentuan Kepentingan Presiden Iran, Ali Akbar Hashemi Rafsanjani yang mengatakan bahwa “Pasukan Iran memerangi Taliban dan memberikan kontribusi dalam mengalahkannya. Bahkan seandainya pasukan Iran tidak membantu dalam memerangi Taliban, niscaya Amerika akan tenggelam dalam rawa-rawa Afghanistan.
Amerika harus sadar bahwa jika bukan karena Tentara Rakyat Iran, niscaya Amerika tidak pernah mampu menjatuhkan Taliban.” Di samping Iran mendukung  rezim yang diciptakan oleh Amerika di Irak, Iran juga membela boneka Amerika, al-Maliki. Jangan lupa bahwa al-Maliki yang didukung oleh Iran telah menandatangani perjanjian keamanan dan militer dengan Amerika Serikat sebelum keberangkatannya ke Irak, sehingga hal ini menunjukkan adanya koordinasi sikap Iran dan Amerika mengenai situasi di Irak setelah penarikan pasukan Amerika dari Irak, serta pembelaan dan dukungan yang diberikan oleh Iran untuk rezim al-Maliki dalam perang melawan organisasi negara (ISIS), dan masuknya pasukan resimen Al-Quds.
Iran menjadikan masalah sektarian dan pembelaan terhadap Syiah sebagai alasan untuk intervensinya di Irak dan Suriah, dimana dalam hal ini Iran mengklaim “untuk melindungi tempat-tempat suci kaum Syiah”, seperti yang dikatakan Presiden Rohani pada surat kabar Ray al-Yaum (18/06/2014). Kemudian pujian Amerika terhadap “peran konstruktif Iran di Irak” (surat kabar al-Hayah, 26/06/2014).
Termasuk juga peran Iran yang dirancang oleh Amerika dalam mendukung rezim penjahat Basyar Assad, dan mencegahnya dari jatuh. Bahkan peran ini yang dibanggakan oleh Mayor Jenderal Muhammad Ali Ja’fari, Komandan Pengawal Revolusi Iran, dalam pernyataannya yang dikutip oleh kantor berita Farsbahwa “medan perang pasukan resimen al-Quds—bagian dari Garda Revolusi—adalah di luar perbatasan Iran, mendukung gerakan-gerakan Islam, dan membela masyarakat melawan rezim yang otoriter.”
Ia menegaskan bahwa pasukan resimen al-Quds “telah melaksanakan misi-misinya di Lebanon, Suriah dan Irak dengan sangat baik.” Ia menambahkan, “penilaian terbaik terhadap kinerja resimen al-Qudsadalah pengakuan para musuh,  semua upaya mereka gagal untuk menggulingkan pemerintah Suriah, dan dalam menjauhkan keamanan dan stabilitas di Irak (surat kabar al-Quds, 16/09/2014). Bahkan Hussein Amir Abdullahian, Deputi Menteri Luar Negeri Iran memperingatkan bahwa jatuhnya rezim Presiden Suriah Basyar al-Assad di tangan organisasi negara Islam (ISIS) akan mengancam keamanan “Israel” (Aljazeera, 12/10/2014).
Adapun program nuklir Iran, yang terus berjalan hingga hari ini, tidak lain adalah alat yang digunakan oleh Amerika, yang pada akhirnya digunakan untuk menundukkan negara-negara Teluk agar ada dalam pengaruhnya, yaitu digunakan untuk menunjukkan bahaya Iran bagi kawasan Timur Tengah, hingga negara-negara Timur Tengah tunduk pada pengaruh Amerika, lalu menetapkan sifat-sifat persenjataan militer yang bernilai ratusan miliar dolar, dan itu tidak memiliki tujuan jelas selain untuk menghidupkan pabrik-pabrik dan perekonomian Amerika.
Adapun saat ini, Amerika ingin menggunakan Iran dengan cara yang berbeda, yaitu memberi Iran peran regional yang menonjol dalam mewujudkan tujuannya. Lalu, program nuklir Iran dihentikan sementara untuk memfokuskan diri bagi campur tangan secara militer dan ideologi di negara-negara lain; Amerika ingin memasukan pengaruhnya.
Di sinilah kami melihat sejauh mana kesamaan politik Iran dan politik Amerika di semua masalah kawasan Timur Tengah. Kesamaan terkait Suriah, dan sebelumnya kesamaan di Afghanistan, juga kesamaan di Irak, dan kesamaan di Yaman … Bahkan bisa dikatakan bahwa ketergantungannya yang paling banyak adalah kesamaan politiknya itu.
Penutup
Dari uraian di atas jelaslah bahwa masyarakat Iran berjalan dengan langkah pasti dari yang buruk menuju yang lebih buruk, akibat sistem politik yang diterapkan di Iran. Konstitusi dan undang-undang, serta kebijakan yang ditetapkan sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Islam, semuanya hanya mengikuti ideologi kapitalisme Barat yang merupakan penyebab kerusakan dan penderitaan di dunia.
Dan rezim Iran ini hanyalah sebagian model dari model-model penyesatan, ketergantungan dan kerusakan dalam semua aspek kehidupan politik, ekonomi dan sosial. Sehingga kaum Muslim di Iran, seperti kaum Muslim lainnya dituntut untuk berjuang keras dalam rangka mendirikan Khilafah Islam Rasyidah yang akan melanjutkan cara hidup Islam yang benar di negeri-negeri mereka, dan seluruh negeri kaum Muslim, seperti yang pernah ada berabad-abad yang lalu.
Kaum Muslim tidak akan selamat dari kerusakan sistemnya, pengkhianatan, ketergantungan dan kezalimannya kecuali dengan Khilafah yang dengannya kaum Muslim akan meraih kemuliaan dunia dan akhirat. Kepada Allah-lah semua niat baik kita dikembalikan. [Abu Abdillah – negeri dua masjid Suci]





Friday, May 20, 2016

Biografi Imam Nawawi

Al-Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi (الإمام العلامة أبو زكريا محيي الدين بن شرف النووي الدمشقي), atau lebih dikenal sebagai Imam Nawawi, adalah salah seorang ulama besar mazhab Syafi'i. Beliau lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus, pada tahun 631 H dan wafat pada tahun 24 Rajab 676 H. Kedua tempat tersebut kemudian menjadi nisbat nama Beliau, an-Nawawi ad-Dimasyqi. Beliau adalah seorang pemikir muslim di bidang fiqih dan hadits.
Imam Nawawi pindah ke Damaskus pada tahun 649 H dan tinggal di distrik Rawahibiyah. Di tempat ini beliau belajar dan sanggup menghafal kitab at-Tanbih hanya dalam waktu empat setengah bulan. Kemudian beliau menghafal kitab al-Muhadzdzabb pada bulan-bulan yang tersisa dari tahun tersebut, dibawah bimbingan Syaikh Kamal Ibnu Ahmad.
Semasa hidupnya beliau selalu menyibukkan diri dengan menuntut ilmu, menulis kitab, menyebarkan ilmu, ibadah, wirid, puasa, dzikir, sabar atas terpaan badai kehidupan. Pakaian beliau adalah kain kasar, sementara serban beliau berwarna hitam dan berukuran kecil.

Guru-guru beliau
Sang Imam belajar pada guru-guru yang amat terkenal seperti Abdul Aziz bin Muhammad Al-AshariZainuddin bin Abdud Daim,Imaduddin bin Abdul Karim Al-HarastaniZainuddin Abul BaqaKhalid bin Yusuf Al-Maqdisi An-Nabalusi dan Jamaluddin Ibn Ash-ShairafiTaqiyuddin bin Abul YusriSyamsuddin bin Abu Umarbeliau belajar fiqih hadits (pemahaman hadits) pada asy-Syaikh al-Muhaqqiq Abu Ishaq Ibrahim bin Isa Al-Muradi Al-Andalusi. Kemudian belajar fiqh pada Al-Kamal Ishaq bin Ahmad bin usman Al-Maghribi Al-Maqdisi, Syamsuddin Abdurrahman bin Nuh dan Izzuddin Al-Arbili serta guru-guru lainnya.

Murid-murid beliau
Tidak sedikit ulama yang datang untuk belajar ke Iman Nawawi. Di antara mereka adalah al-Khatib Shadruddin Sulaiman al-Ja’fariSyihabuddin al-ArbadiShihabuddin bin Ja’wan,Alauddin al-Athar dan yang meriwayatkan hadits darinya Ibnu Abil FathAl-Mazi dan lainnya.

Perkataan Para Ulama Tentang Beliau
Adz-Dzahabi berkata: "Beliau adalah profil manusia yang berpola hidup sangat sederhana dan anti kemewahan. Beliau adalah sosok manusia yang bertaqwa, qana’ah, wara, memiliki muraqabatullah baik di saat sepi maupun ramai.
Pada tahun 651 H ia menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, kemudian ia pergi ke Madinah dan menetap disana selama satu setengah bulan lalu kembali ke Dimasyq. Pada tahun 665 H ia mengajar di Darul Hadits Al-Asyrafiyyah (Dimasyq) dan menolak untuk mengambil gaji.
Beliau juga menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, termasuk kepada para penguasa dengan cara yang telah digariskan Islam. Beliau menulis surat berisi nasehat untuk pemerintah dengan bahasa yang halus sekali. Suatu ketika beliau dipanggil oleh raja Azh-Zhahir Bebris untuk menandatangani sebuah fatwa. Datanglah beliau yang bertubuh kurus dan berpakaian sangat sederhana. Raja pun meremehkannya dan berkata: “Tandatanganilah fatwa ini!!” Beliau membacanya dan menolak untuk membubuhkan tanda tangan. Raja marah dan berkata: “Kenapa !?” Beliau menjawab: “Karena berisi kedhaliman yang nyata.” Raja semakin marah dan berkata: “Pecat ia dari semua jabatannya!” Para pembantu raja berkata: “Ia tidak punya jabatan sama sekali.” Raja ingin membunuhnya tapi Allah menghalanginya. Raja ditanya: “Kenapa tidak engkau bunuh dia padahal sudah bersikap demikian kepada Tuan?” Rajapun menjawab: “Demi Allah, aku sangat segan padanya.”
Abul Abbas bin Faraj berkata: "Syaikh (An-Nawawi) telah berhasil meraih 3 tingkatan yang mana 1 tingkatannya saja jika orang biasa berusaha untuk meraihnya, tentu akan merasa sulit. Tingkatan pertama adalah ilmu (yang dalam dan luas).Tingkatan kedua adalah zuhud (yang sangat). Tingkatan ketiga adalah keberanian dan kepiawaiannya dalam beramar ma’ruf nahi munkar."
Wafatnya
Pada tahun 676 H. beliau kembali ke kampung halaman-nya Nawa, sesudah mengembalikan berbagai kitab yang dipinjamnya dari sebuah badan waqaf, selesai menziarahi makam para guru beliau, dan sehabis bersilaturrahim dengan para sahabat beliau yang masih hidup. Di hari keberangkatan beliau, para jama’ah yang beliau bina melepas kepergian beliau di pinggiran kota Damaskus, mereka lalu bertanya: "Kapan kita bisa bermuwajahah lagi?" Beliau menjawab: "Sesudah 200 tahun." Akhirnya mereka paham bahwa yang beliau maksud adalah sesudah hari kiamat. Ketika kabar wafatnya beliau tersiar sampai ke Damaskus, seolah seantero Damaskus dan sekitarnya menangisi kepergian beliau. Kaum muslimin benar-benar merasa kehilangan beliau. Penguasa di saat itu, ’Izzuddin Muhammad bin Sha’igh bersama para jajarannya datang ke makam Imam Nawawi di Nawa untuk menshalatkannya. Beliau ditangisi oleh tidak kurang dari 20.000 orang atau 600 keluarga lebih. Semoga Allah selalu mencurahkan rahmat yang luas kepada beliau dan membangkitkan beliau kelak bersama mereka yang telah dikaruniai nikmat yang besar yakni dari kalangan para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan Shalihin.

Imam Nawawi meninggalkan banyak karya yang terkenal. Jumlahnya sekitar empat puluh kitab, diantaranya: 
Dalam bidang hadits:



  • Riyadhus Shalihin (رياض الصالحين), kumpulan hadits mengenai etika, sikap dan tingkah laku yang saat ini banyak digunakan di dunia Islam.
  • Al-Minhaj (Syarah Shahih Muslim), (شرح صحيح مسلم), penjelasan kitab Shahih Muslim bin al-Hajjaj.
  • At-Taqrib wat Taysir fi Ma’rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir. (التقريب والتيسير لمعرفة سنن البشير النذير), pengantar studi hadits.

Dalam bidang fiqih:
  • Minhaj ath-Thalibin (منهاج الطالبين وعمدة المفتين في فقه الإمام الشافعي).
  • Raudhatuth Thalibin,
  • Al-Majmu` Syarhul Muhadzdzab (المجموع شرح المهذب), panduan hukum Islam yang lengkap.
  • Matn al-Idhah fi al-Manasik (متن الإيضاح في المناسك), membahas tentang haji.

Dalam bidang bahasa:
  • Tahdzibul Asma’ wal Lughat.

Dalam bidang akhlak:
  • Bustanul Arifin,
  • Al-Adzkar (الأذكار المنتخبة من كلام سيد الأبرار), kumpulan doa Rasulullah.

Dan lain-lain:
  • Tahdzib al-Asma (تهذيب الأسماء).
  • Ma Tamas Ilaihi Hajah al-Qari li Shahih al-Bukhari (ما تمس إليه حاجة القاري لصـحيح البـخاري).
  • Tahrir al-Tanbih (تحرير التنبيه).
  • Adab al-Fatwa wa al-Mufti wa al-Mustafti (آداب الفتوى والمفتي والمستفتي).
  • At-Tarkhis bi al-Qiyam (الترخيص بالقيام لذوي الفضل والمزية من أهل الإسلام).



Perkataan Perdana Menteri Pertama Israel

"Jika aku menjadi pemimpin arab, aku tidak akan pernah menandatangani perjanjian apapun dengan Israel. Ini hal yang normal; kita (Isra...